Sunday, 17 April 2016

Lembaga Penelitian Khawatir Hadapi Era Big Data

Pengolahan data penelitian pada era digital, memiliki tantangan besar. Sebab, saat ini sudah muncul era ledakan data yang tersebar pada berbagai platform, atau big data.
Pada era big data, lembaga penelitian menghadapi tantangan analisa. termasuk data yang lebih kompleks dan tak bisa dianalisa dengan pendekatan konvensional.

Untuk itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengantisipasi big data, dengan inisiasi satu pintu, atau satu portal informasi penelitian di Indonesia.

"Sekarang untuk olah data, kadang ada di media sosial, bukan lagi di Excel seperti dulu. Sekarang eranya sudah Terabyte, bukan Gigabyte, bahkan nanti masuk ke Petabyte sampai Exabyte. Data makin kompleks dan besar," ujar Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain di kantornya, Selasa 1 September 2015.

Iskandar mengatakan, kebutuhan satu pintu, atau portal informasi penelitian di Indonesia, dilandasi dengan fakta tersebarnya data penelitian di berbagai lembaga. Kondisi itu membuat akses data sulit dan menghambat proses penelitian.

Padahal, kata dia, praktik di negara maju, diawali dengan terpusatnya data penelitian. Iskandar menambahkan, dengan memiliki satu pintu data penelitian, maka manfaat lain yang bisa didapat, yaitu data penelitian menjadi lebih aman dan terkendali.

"Jadi, bisa efisien dan aman. Kalau data aman, implikasinya kan amankan kepentingan negara," kata dia.

Dia melanjutkan, untuk menyatukan data penelitian dalam satu pintu tersebut, memang masih ada kendala dalam kesamaan cara pandang. Meski LIPI sudah memberikan imbauan dan ajakan kepada lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah, namun kenyataannya masih belum mau untuk bersatu.

"Memang, masih ada cara pandang pada masing-masing lembaga dalam pengolahan data penelitian," kata dia.

Dalam rangka menyatukan komitmen tersebut, LIPI mengadakan lokakarya pengolaham data ilmiah. Acara ini diharapkan bisa menyatukan komitmen lembaga penelitian dan pengembangan lembaga, agar sepakat menuju satu pintu informasi penelitian.

Menurut keterangan LIPI, saat ini, lembaga di luar LIPI yang menyatakan komitmen untuk ide satu pintu data penelitian, yaitu BMKG. LIPI akan mengajak lembaga penelitian non kementerian dahulu sebelum mengajak lembaga penelitian kementerian.

Iskandar mengakui, lambatnya realisasi ide satu pintu data penelitian ini, karena tidak ada aturan yang mewajibkan lembaga penelitian pemerintah untuk menyatukan datanya.

Balik dari Luar Angkasa, Whisky Ini Diklaim Berubah Rasa

Sebuah whisky yang telah berada di luar angkasa selama hampir 4 tahun akhirnya kembali. Peneliti mengungkap rasa whisky itu telah berubah secara signifikan.

Saat diterbangkan ke luar angkasa pada 2011, whisky yang berasal dari air gandum yang belum matang itu ditempatkan dalam botol kecil. Whisky itu telah kembali ke Bumi tahun lalu.

Dilansir melalui News Sky, Selasa 8 September 2015, uji coba itu dilakukan untuk mengetahui dampak gravitasi nol bagi rasa pada makanan, minuman, dan lainnya. Mereka yakin jika senyawa pada makanan dan minuman akan berubah seiring dengan gravitasi yang berbeda di Bumi.

"Hasil yang kami dapat dari contoh whisky luar angkasa itu memang menunjukkan rasa yang sangat berbeda dengan apa yang ada di Bumi. Penelitian ini bisa menunjukkan implikasi yang signifikan dalam industri whisky," ujar Dr. Bill Lumsden, Direktur Ardberg, produsen whisky yang diajak dalam penelitian itu.

Dikatakan Lumsden, perusahaan whisky yang dipimpinnya, memang telah memiliki karakter yang rumit dalam setiap produksinya. Namun, hasil uji coba ini menunjukkan jika ada kemungkinan hal yang lebih kompleks lagi yang bisa dirancang untuk membuat whisky yang berbeda.

"Temuan kami suatu hari bisa memiliki implikasi yang signifikan untuk industri whisky secara keseluruhan," ujar Lumsden. (art)

Terungkap Asal Usul Air Bumi

Asal usul air bumi telah menjadi debat panjang peneliti. Ada dua teori besar tentang asal usul air bumi. Pertama, air memang muncul bersamaan dengan terbentuknya bumi.
Teori ini meyakini air bumi dulunya berasal dari kurungan batu dan debu asli yang membentuk bumi. Karena material pembentuk bumi itu runtuh akibat beban gravitasi yang mereka miliki, maka air kemudian keluar dan akhirnya membentuk lautan.

Sementara teori kedua menyebutkan air muncul dari luar bumi bersamaan dengan serangan asteroid dan meteroit ke permukaan bumi.

Namun, analisa terakhir dari tim peneliti University of Glasgow, Skotlandia membuktikan asal usur air cenderung ada di teori pertama.

Dikutip dari Dnaindia.com, Senin 16 November 2015, kesimpulan peneliti itu didasarkan oleh analisa lava dari dalam mantel bumi. Material dari dalam bumi itu menujukkan butir debu yang direndam air saat awal tata surya.

Sampel lava yang dipelajari peneliti menujukkan perwakilan sangat murni dari material bumi yang baru lahir. Dengan demikian, sampel tersebut bisa menunjukkan rincian menarik tentang perdebatan panjang tentang asal usul air bumi.

Dalam penelitian, peneliti mempelajari asal usul air bumi dengan menganalisa rasio deuterium/hidrogen (D/H) air. Ini merupakan rasio atom hidrogen yang masing-masing memiliki satu neutron atau tak ada neutron.

Peneliti mengatakan hal yang bisa mempengaruhi rasio atom tersebut dari waktu ke waktu adalah percampuran tektonik.

Kemudian peneliti menemukan material butir debu yang dianalisa dari aliran lava yang bergejolak dan menaikkan basal (batuan beku berwarna gelap, berbutir halus). Basal ini muncul ke permukaan di Pulau Baffin, Kanada dan dianalisa tim peneliti.

Dari uji sampel basal tersebut, peneliti menemukan sampel relatif tak berubah setelah mereka meneliti helium, neon dan komposisi timah.

Analisis rasio D/H pada basal menunjukkan jumlah deuterium yang lebih rendah dari yang ditemukan dalam studi sebelumnya dalam studi rasio air lautan. Dengan demikian membuktikan dasar baru bagi tanda asli D/H bumi.

Penulis studi menunjukkan ada satu kemungkinan rasio D/H lebih rendah ini bahwa partikel debu direndam air hadir pada awal tata surya yang tertanam dalam bumi selama pembentukannya.

Ditemukan Formula Agar Tumbuhan Bisa Panen di Planet Mars

Peneliti Australia mengklaim telah menemukan formula untuk bisa menumbuhkan tanaman dan memanen di Planet Mars. Keyakinan peneliti itu muncul setelah mereka sukses mengidentifikasi urutan DNA tanaman kerabat tembakau kuno Australia.
Tanaman tembakau yang punya nama ilmiah, Nicotiana benthamiana, diketahui bisa tetap hidup di daerah yang keras di pinggiran Australia.

Dikutip dari International Business Times, Kamis, 10 Desember 2015, menunjukkan peneliti mendapatkan urutan DNA kerabat tanaman tembakau kuno tersebut. Peneliti mengatakan, setelah terjadi mutasi genetik selama 750 ribu tahun, Nicotiana benthamiana telah berevolusi menjadi tanaman yang bisa hidup dalam kondisi keras di Australia. Dalam prosesnya, tanaman ini melepaskan sistem kekebalannya untuk melindungi diri dari infeksi penyakit.

"Dalam kebanyakan tempat (gen imunitas yang rusak) akan menjadi sifat tak berguna karena itu dihapuskan oleh penyakit," kata pakar genetika tumbuhan Universitas Technology Queensland, Australia, Peter Waterhouse.

Waterhouse mengatakan dalam beberapa lokasi, seperti antariksa yang tak ada patogen, maka bisa saja manusia menumbuhkan tumbuhan tersebut.

"Jadi anda bisa memakai sampah tersebut tanpa mempertahankannya," kata dia.

Nicotiana benthamiana diketahui telah lama dikonsumsi oleh suku Aborigin asli. Mereka menggunakan tanaman tersebut dengan dikunyah.

Waterhouse mengklaim tanaman ini bisa dipakai untuk menumbuhkan tanaman di antariksa. Dikatakan, dengan mengisolasi gen tersebut akan menyebabkan tanaman mengeluarkan sistem kekebalan dan berkembang subur dalam kondisi ekstrem.

"Ini bisa menjadi kunci penanaman tumbuhan di antariksa, yang mana di dana tak ada penyakit yang memudahkan tanaman," ujar dia.

Menurut studi yang dipublikasi dalam jurnal Nature.com, peneliti tak mampu mengurutkan gen lain dari varietas Nicotiana benthamiana yang tumbuh di bagian pesisir Australia.

Tanaman kuno ini disebutkan bisa menghasilkan benih 50 persen lebih besar dan dua kali lipat dari bobot asli tumbuhan.

Waterhouse mengatakan, begitu tanaman tak lagi melawan penyakit, mereka akan fokus dengan energi yang dihasilkan untuk bertumbuh lebih cepat dalam lingkungan yang ekstrim.

Komputasi Manusia, Solusi Problem Akut Dunia

Masalah besar masih melanda dunia. Misalnya perubahan iklim dan konflik geopolitik masih menjadi pekerjaan rumah bagi negara dunia. Meski sudah melakukan berbagai pertemuan antarnegara dan lembaga, namun masalah besar tersebut masih belum bisa diselesaikan.

Terkait dengan hal tersebut, peneliti mengatakan sebenarnya komputasi manusia bisa menjadi solusi masalah akut dunia.

Dikutip dari Scientific Computing, Rabu 6 Januari 2016, peneliti Human Computation Institute (HCI) dan Cornell University, Amerika Serikat mengatakan kombinasi manusia dan kecerdasan komputer bisa dipakai untuk menyelesaikan problem mengerikan di dunia tersebut.

Peneliti mengatakan kolaborasi antara manusia dan komputer bisa dipakai untuk menyelesaikan persoalan yang selama ini tidak bisa dipecahkan dengan pendekatan tradisional.
Peneliti mengatakan manusia punya kemampuan yang melebihi komputer dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan atau masalah, tapi ketika masalah kian besar, terutama yang melibatkan banyak data, maka kemampuan manusia terbatas. Pada titik ini lah kontribusi komputer bisa dipakai untuk membantu manusia.

Peneliti mengatakan dengan mengefektifkan kombinasi antara kecerdasan komputer dan kecerdasan manusia, maka bisa menghasilkan sistem komputasi hibrid yang bisa menyelesaikan masalah besar yang ada di dunia misalnya penyakit, perubahan iklim maupun konflik geopolitik.

Keyakinan peneliti bukan hanya bualan semata. Peneliti mencontohkan salah satu keberhasilan kolaborasi itu ada pada produk YardMap.org, sebuah proyek yang menggunakan input dari banyak orang melalui internet (crowdsourcing) untuk menyelesaikan masalah dunia.

Proyek yang diluncurkan peneliti Cornell pada 2012 tersebut berupaya untuk melihat percakapan global dan peta lokal dengan input dari banyak orang melalui internet.

"Dengan berbagi dan mengamati praktik dalam jejaring sosial berbasis peta, orang dapat mulai mengaitkan upaya individual mereka dengan percakapan potensial soal kehidupan," kata Janis Dickinson, profesor dan Direktur Citizen Science Cornell Lab of Ornithology.

Bukti lain dari kolaborasi bagus antara komputasi manusia dan skema crowdsourcing tersebut adalah penemuan terkait HIV yang mana bisa dicapai dalam waktu 10 hari saja. Hal ini dilakukan dengan kolaborasi pengguna internet melalui jaringan tersebut. Waktu tersebut sangat singkat bila dibandingkan dengan penemuan terkait HIV yang dilakukan peneliti, yang mana butuh waktu setidaknya satu setengah dekade.

"Jika anda menciptakan seorang ahli dengan mengkombinasikan orang dalam kerumunan (crowdsourcing) ini, kemudian anda telah memiliki akses ke banyak ahli dalam kerumunan ini. Jadi kita menggunakan metode 'kebijaksanan dari kerumunan' untuk mengombinasikan kontribusi dari khalayak ramai," kata Pietro Michelucci, Direktur Human Computation Institute dikutip dari Tech News World.
Selain Yardmap.org pendekatan ini bsia secara radikal meningkatkan studi medis. Misalnya, belum lama ini peneliti menggunakan metode kolaborasi tersebut dalam proyek riset penyakit Alzheimer. Melalui WeCureAlz.com, yang mengombinasikan sistem penugasan mikro dan komputasi manusia, peneliti mengklaim sukses melahirkan analitik interaktif untuk menemukan solusi dari penyakit tersebut.

Peneliti Klaim Punya Cara Manipulasi Gravitasi

Peneliti Universitas Namur, Belgia telah menemukan cara untuk memanipulasi gravitasi secara radikal. Caranya peneliti menggunakan skema untuk menciptakan dan mengendalikan medan gravitasi dengan menggunakan teknologi yang ada saat ini.

Temuan peneliti itu membuat mereka bisa mewujudkan hal yang selama ini menjadi sains fiksi.

Dikutip dari Daily Mail, Senin 11 Januari 2016, peneliti Universitas Namur, André Füzfa mengajukan sebuah metode yang akan memungkinkan orang untuk mengendalikan gravitasi.

Terobosan yang dihasilkan André Füzfa merupakan jawaban frustasi yang selama ini ditemui pleh beberapa peneliti sebelumnya dalam membongkar tentang gravitasi. Dia mengatakan peneliti harus memasang sebuah perangkat elektromagnetik superkonduktor yang sering dipakai dalam reaktor Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir (CERN) atau proyek penyatuan energi di Prancis, ITER.

"Kami akhirnya mengajukan pengaturan eksperimen, yang bisa dicapai dengan teknologi kumparan super konduktor yang ada saat ini," kata dia.

Teknologi kumparan itu, kata Füzfa, akan menghasilkan pergantian fase cahaya yang urutannya sama besarnya dari sinyal astrofisika di pengamaran gelombang gravitasi di daratan.

Dia menggambarkan pada eksperimen itu ia menjamin tidak memanfaatkan prinsip fisika baru.

Dalam tahapan pertama, kumparan super konduktor besar ditumpuk digunakan untuk menghasilkan medan gravitasi buatan. Kemudian pada tahap kedua eksperimen mendeteksi medan buatan itu melalui inferometer yang sangat sensitif, yang mengandung rongga penyimpan cahaya.

Peneliti mengatakan percobaan sejauh ini menunjukkan bahwa secara lemah, medan buatan yang dihasilkan arus listrik dapat dideteksi melalui perubahan 'geometri ruang waktu'.

"Prinsip kesetaraan, pada inti relativitas umum Albert Einstein menyatakan semua jenis energi memproduksi dan mengalami gravitasi yang sama," kata Füzfa.

Dalam penelitiannya, Füzfa mengatakan percobaan ini membutuhkan sumber daya yang besar. Jika berhasil, tulis dia, percobaan akan memberikan manusia kekuatan untuk mengendalikan kekuatan terakhir dari empat kekuatan.

Peneliti mengatakan medan elektromagnetik sebaliknya dapat digunakan untuk menghasilkan medan gravitasi buatan manusia yang bisa diaktifkan atau dinonaktifkan. Hal itu tergantung apakah sumber elektromagnetik ada atau tidak.

Ponsel Anda Menceritakan Tentang Anda

Dalam dunia forensik hp, orang-orang dalam memiliki nama untuk semua informasi pribadi yang secara sadar maupun tak sadar tersimpan dalam telepon genggam anda. Mereka menyebutnya "sidik jari digital". Dengan peralatan yang tepat serta akses langsung ke ponsel anda, siapa saja dapat menyadap rincian pribadi kehidupan anda: sms, foto-foto, tweet, facebook, janjian anda, tempat olahraga favorit anda, atau bahkan apa yang kamu makan semalam.

Anda bisa mengetahui segalanya tentang seseorang melalui ponselnya, tutur Amber Schroader, pemilik Paraben of Pleasant Grove, Utah, yang membuat perangkat lunak forensik bagi para penyelidik dan masyarakat umum
. "Anda dapat melihat video-video YouTube mereka, situs-situs yang mereka jelajahi, gambar-gambar mereka. Orang-orang kecanduan akan telepon genggam mereka, jadi ini merupakan informasi terkini dan paling berharga yang tersedia mengenai seseorang."

Walaupun perusahaan-perusahaan nirkabel dan pihak lainnya telah lama bisa melacak lokasi hp dari jauh, masih belum jelas informasi lainnya yang bisa diakses dari jauh. Akan tetapi para penyelidik forensik telah lama mengetahui bahwa penyimpanan data biografis dapat dikumpulkan ketika mereka memiliki akses langsung ke peralatan-peralatan genggam. Bahkan sebelum penemuan arsip pelacakan lokasi yang diperlihatkan oleh para peneliti minggu ini telah ditemukan pada iPhone, para penyelidik telah mengumpulkan data dari smartphone Apple. "Kami menganalisa iPhone sejak diluncurkan," kata Christopher Vance, spesialis forensik digital di Marshall University's Forensics Science Center, yang bekerja dengan agensi penegak hukum baik swasta maupun negri di Virginia Barat.

Vance dan laboratoriumnya membantu mengambil data dari iPhone termasuk catatan panggilan, hasil pencarian peta dari aplikasi Google Maps, grafik-grafik yang tersimpan di tembolok peramban, bahkan catatan tentang apa yang telah diketikkan ke papan kunci virtual iPhone. "Ada banyak sekali informasi penting pada iPhone," tuturnya.

Tak semua orang senang akan betapa gampangnya membuat hp mengungkap rahasianya. Apple telah menghiraukan permintaan terus menerus terhadap komentar akan arsip pelacakan, bahkan ketika para anggota Konggres mulai menanyakan pertanyaan mengapa Apple melacak para pengguna teleponnya dan apa yang dilakukannya terhadap informasi tersebut. Lagi pula para advokat privasi memperingatkan bahwa mengambil data dari hp seseorang tanpa ijinnya merupakan satu langkah turun lagi di jalan yang sudah bermasalah. "Ini bukan telepon genggam - ini adalah telepon sadap," tutur John M. Simpson, direktur Consumer Watchdog's Privacy Project. Para konsumen harus memiliki hak untuk mengontrol apakah data mereka dikumpulkan dan bagaimana itu dipergunakan.

Orang-orang tidak menyadari tentang tambang emas data tentang kehidupan mereka yang ada di dalam hp mereka," tambahnya. "Harus ada proses pembelajaran agar supaya orang-orang akan mulai memahaminya." Para advokat privasi mengatakan bahwa penyingkapan arsip pelacakan iPhone menggarisbawahi kebutuhan akan hukum dan perundang-undangan baru untuk menentukan jenis dan jumlah informasi yang dapat dikumupulkan peralatan bergerak. Sebagai tambahan terhadap arsip pelacakan iPhone, telah dibuka bahwa iPhone milik Apple dan telepon Android milik Google secara teratur mengirmkan data lokasi ke kedua perusahaan tersebut.

"Saya melihat lereng licin," kata Sharon Goott Nissim, perwakilan privasi konsumen di Electronic Privacy Information Center, sebuah kelompok advokasi konsumen. "Ketika pengumpulan data sudah dilakukan, lebih sulit lagi untuk menghentikan para penegak hukum memperoleh akses terhadapnya. Cara untuk menghentikan ini ialah menghentikan pengumpulan tersebut pertama-tama."

Dari pengalaman selama bertahun-tahun, sekarang para penyelidik telah memiliki pemikiran yang lebih baik daripada pemilik telepon mengenai data apa yang dapat mereka dapatkan secara legal dari telepon para konsumen. Arsip pelacakan lokasi iPhone tersebut "telah terbang di bawah radar untuk sesaat," kata Sean Morrissey, CEO Katana Forensics. "Bagi para penyelidik forensik, itu merupakan hal yang baik. Anda tak ingin menyampaikan pada orang jahat bahwa anda bisa mendapatkan informasi tersebut dari teleponnya. "Kami tahu sebagian besar data nantinya akan terdapat pada peralatan bergerak," katanya.

Para penyelidik forensik telah lama bisa mengambil daftar koneksi, rekaman panggilan dan pesan singkat dari ponsel. Akan tetapi smartphone seperti iPhone telah secara signifikan meningkatkan jumlah datanya. Bagian tersebut berkaitan dengan bertumbuhnya penggunaan konsumen terhadap peralatan seperti itu dan semakin banyak aplikasi yang tersedia untuk peralatan itu.

Schroader, yang firmanya menawarkan alat pengambilan data forensik senilai $199 yang disebut iRecovery, mengatakan walaupun para penyelidik telah dapat menjelajahi jeroan ponsel selama bertahun-tahun, pertumbuhan kapasitas smartphone berarti perubahan besar dalam jumlah data pribadi sekarang mudah didapatkan.

"Kami telah membuat alat-alat ini yang mendukung iPhone, Windows Mobile dan Android selama bertahun-tahun, namun penyimpanannyalah yang mengubah segalanya," katanya. "Hp jadul anda memiliki penyimpanan beberapa MB. Sekarang kita berada pada tingkat GB, dan akhirnya akan berada pada terabyte. Lebih lagi jika kita bekerja sama dengan penegak hukum, yang menerjemahkannya ke lebih banyak bukti, yang membuat kami semua sangat senang."